Sate Haji Kuswata pada mulanya
dikenal dengan Sate Ibu Gendut (ibu dari h. kuswata) pada awal tahun 1940-an
Ibu Gendut mulai berjualan makanan masakan sunda di ibu kota tepatnya di Kalideres
Jakarta Barat. Setelah sekian lama malang melintang akhirnya pada Ibu Gendut
bersama suami dan Anaknya (Ibu Ecoh) memilih memberanikan diri berjualan di kampung
sendiri yaitu Cibingbin, perbatasan ujung Jawa Barat Kuningan dengan Jawa Tengah
Brebes.
Dari desa ke desa dari suatu
tempat ke tempat lainnya, bermodalkan semangat & lampu senter pompa Ibu
Gendut berjualan sate dengan cara berkeliling sampai ke Daerah perbatasan
Brebes. Pada jaman itu belum ada kendaraan, jalanan masih gelap. Momen dimana
ada hiburan hajatan itulah kesempatan bagi Ibu Gendut berjualan.
Sampai dimana suatu masa Ibu
Gendut berniat mewariskan Satenya ke Ibu Ecoh (kakak dari H. Kuswata) tetapi beliau
menolaknya, lebih memilih hijrak ke ibu kota. Akhirnya Bapak H. Kuswata lah
yang meneruskan berjualan sate kambing Ibu Gendut yang waktu itu lumayan sering
ikut berjualan sate keliling, biasanya bertugas bawa lampu senter pompa.
Di tangan H. Kuswata mulai lebih terkenal
karena sudah ada listrik dan hiburan tetap MISBAR (Gerimis Bubar) atau kalau
jama sekarang dikenal bioskop tapi versi outdoor. Kini kebanyakan orang-orang
lebih mengenal SATE HAJI KUSWATA atau SATE CIBINGBIN.
Dadang Sobali putra pertama dari
H. Kuswata mulai membantu mengembangkan usaha orang tuanya, di tangan dinginnya
SATE HAJI KUSWATA kini lebih berkembang dengan membuka cabang baru di luar
Cibingbin dan berkonsep lebih bagus, memiliki daya jual yang mumpuni.
Dia (Dadang Sobali) berniat
membawa SATE HAJI KUSWATA ke kanca Nasional. Setidaknya Indonesia tahu bahwa
ada Sate yang enak di Kuningan.

Posting Komentar